IMPLEMENTASI METODE BALIGHA DALAM
PEMBELAJARAN MEMBACA AL-QUR'AN
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas ujian
mid-semester genap mata kuliah:
Metode Pembelajaran Al-Qur'an
Dosen Pengampu:
Al-Ustadz Deki Ridho Adi Anggara, S.Ud., M.Ag.

Disusun Oleh:
Lutfi Atul Kamelia
(402019238121)
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR
MANTINGAN NGAWI JAWA TIMUR
2022M/1443H
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Di dalam
ajaran agama Islam tradisi membaca al-Qur'an telah menjadi suatu kewajiban yang
harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. Adapun pembelajaran membaca al-qur'an
adalah pembelajaran yang sangat utama yang mana menjadi prioritas bagi seluruh
umat Islam, karena membaca al-Qur'an adalah pintu gerbang menuju pengetahuan
Islamiah seperti akidah, ibadah, akhlak, dan lain-lain.
Membaca adalah suatu proses pertama dan paling utama dalam kaitannya membuka
kunci petunjuk dan gudang perbendaharaan keilmuan Islam.
Adapun
menjadi seorang yang ahli dalam membaca al-Qur'an hukumnya fardhu kifayah, hal
ini agar menjadi perhatian bagi setiap umat Islam sehingga dapat terhindar dari
berbagai macam kesalahan yang umumnya tidak sengaja terjadi, seperti halnya
bacaan huruf yang salah, harakat, ilmu tajwid dan berbagai ilmu dari yang
berakaitan dengan tat cara membaca al-Qur'an yang baik dan yang benar. Seperti
halnya dijelaskan di surah al-Alaq ayat 1 sampai 5 yang berbunyi:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1)
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي
عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Artinya: "Bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu
yang menciptakan, yang menciptakan mu dari segumpal darah, yang mengajarimu
dengan perantara kalam, dan dia mengajarkan manusia apa yang tidak di
ketahuinya".
Hal ini memberikan pemahaman bahwasannya al-Qur'an
pertama kali harus dibaca untuk dapat mengetahui isinya karena tanpa membacanya
maka tidak akan didapatkan makna yang terkandung di dalamnya. Sedangkan dalam
surah al-Muzammil ayat 4, Allah SWT Berfirman sebagai berikut:
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ
تَرْتِيلًا (4)
Artinya: "...dan bacalah al-Qur'an dengan tartil".
Dapat disimpulkan bahwa di dalam membaca
al-Qur'an sudah seharusnya di baca dengan bersungguh-sungguh dengan cara
belajar membaca al-Qur'an sesuai dengan kaidahnya. Pada saat ingin membaca dan
memahaminya sudah menjadi kewajiban kita untuk belajar cara membacanya serta
berusaha menemukan metode yang sesuai dan efektif yang dapat diterapkan agar
pembelajaran bisa mencapai keberhasilan. Pada suatu sistem pembelajaran al-Qur’an
pada hakikatnya memiliki tujuan sistem sama yaitu untuk mengetahui huruf dan
tanda bacaan al-Qur'an, dan hal yang paling utama adalah membuat bagaimana
setiap umat Islam mampu melantukan ayat-ayat suci al-Qur'an sesuai dengan
hukum-hukum bacaan dalam ilmu tajwid.
Mengingat akan pentingnya peran al-Qur'an
dalam pembimbing dan mengarahkan kehidupan manusia, Hasan al-Bana berpendapat
bahwa membaca, memahami dam mempelajari al-Qur'an untuk kemudian dapat
diamalkan dalam keseharian merupakan kewajiban bagi setiap insan Muslim.
Sebagaimana dalam hadits:
حَدّثَنَا
حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ، حَدّثَنَا شُعْبَةٌ، قَالَ: أَخْبَرَنِيْ عَلْقَمَةُ
بْنُ مَرْثَدٍ، سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ، عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
السُّلَمِيِّ، عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ الله عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Sebaik-baik kalian
adalah orang yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
Dalam
hadits tersebut dipaparkan bahwa siapa saja yang belajar al-Qur'an serta
mengajarkannya kepada oang lain maka akan diberikan pahala kebaikan tersendiri
kepadanya, sebagaimana yang telah diketahui bahwa pahala kebaikan memiliki hierarki tersendiri, dan yang menempati
hierarki tertinggi adalah siapa saja yang mempelajari al-Qur'an dengan makna dan
maksud yang terkandung di dalamnya. Sedangkan sekurang-kurangnya adalah dengan
mempelajari lafadznya saja.
Al-Qur'an adalah kitab suci yan paling banyak
dan kerap dibaca dan didengar oleh seluruh umat manusia di
dunia.sekurang-kurangnya dalam dibaca lima kali dalam sehari semalam oleh seluruh
umat Islam baik dibaca secara individu maupun secara berjamaah di dalam shalat
mereka. Kadar pembacaan al-Qur'an dikalangan umat Muslim sungguh beranekaragam.
Ada yan membacanya dengan fasih sempurna, namun adapula sebagian yang masih
sederhana bahkan ada yang terbata-bata.
Kondisi tersebut diduga terjadi dikarenakan
oleh beberapa faktor, yaitu modernisasi yang banyak mempengaruhi arah pemikiran
manusia zaman sekarang, waktu dan tenaga yang disediakan untuk belajar
al-Qur'an sangat sedikit apabila dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk
menuntut ilmu penegetahuan lain, bagi masayrakat yang berpendidikan
non-pesantren membaca al-Qur'an dianggap agak sulit karena al-Qur'an ditulis
dengan bahasa Arab, perkembangan teknologi ikut andil mengalihkan kecenderungan
masyarakat untuk belajar al-Qur'an, statisnya pengembangan sistem pengajaran
membaca al-Qur'an.
Dari problematika yang bervariasi itulah, maka
sudah menjadi kewajiban dan tugas bersama untuk melakukan kegiatan pembelajaran
al-Qur'an dengan mencari metode yang dapat memudahkan proses pembelajaran
al-Qur'an. agar supaya pembelajaran al-Qur'an dapat berjalan lebih efisien dan
tepat. Karena dengan tanpa adanya suatu metode yang tepat maka suatu
pembelajaran akan statis dan sia-sia. Adapun metode menduduki posisi terpenting
kedua setelah tujuan dari sederetan komponen-komponen pembelajaran: tujuan,
metode, media, dan evaluasi tercapai.
Dengan beragamnya metode pembelajaran al-Qur'an yag tengah berkembang di
masyarakat sekarang ini, penulis tertarik untuk membahas tentang bagaimana
penerapan metode Baligha dalam pembelajaran al-Qur'an yang awal mula
dikembangkan di lembaga "Al-Qur'an Center Ummu Habibah Tangerang"
sehingga bisa menjadi pengetahuan bersama dan menjadi solusi atas pemilihan
metode pembelajaran al-Qur'an yang baik, benar dan efektif.
Rumusan Masalah
1.
Apakah yang dimaksud dengan metode
pembelajaran membaca al-Qur'an?
2.
Bagaimana implementasi metode baligha dalam
pembelajaran membaca al-Qur'an?
3.
Apakah keistimewaan dari metode baligha ini
sehingga layak digunakan sebagai metode pembelajaran membaca al-Qur'an yang
efektif untuk diterapkan di setiap lembaga pendidikan Islam?
Tujuan Masalah
1.
Mengetahui metode pembelajaran membaca
al-Qur'an.
2.
Mengetahui imlplementasi metode baligha dalam
pembelajaran membaca al-Qur'an.
3.
Mengetahui keistimewaan dari metode baligha
ini sehingga layak digunakan sebagai metode pembelajaran membaca al-Qur'an
yang efektif untuk diterapkan di setiap lembaga pendidikan Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Metode Dan Pembelajaran Membaca Al-Qur'an
Secara etimologi metode diambil dari kata
bahasa Yunani, yaitu Metodos yang artinya cara atau jalan.
Sedangkan secara terminologi metode adalah suatu cara yang teratur yang
digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan dalam rangka mencapai sesuatu yang
dikehendaki, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu
kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Sedangkan pembelajaran adalah suatu proses
interaksi anatara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bentuk bantuan yang diberikan
seorang pendidik dalam proses mendapatkan ilmu serta pengetahuan, penguasaan
kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta
didik.
Dapat dipahami bahwa pembelajaran merupakan sebuah usaha mempengaruhi emosi,
intelektual, dan spiritual seseorang agar dia bersedia untuk belajar atas dasar
kemauan diri sendiri, dengan proses pembelajaran maka akan terjadi proses
pengembangan moral keagamaan, aktivitas, dan kreativitas, peserta didik melalui
berbagai bentuk interaksi dan pengalaman selama proses belajar.
Menurut ulama ahli ilmu ushul, yakni
para fuqaha' dan ulama Arab, al-Qur'an adalah firman Allah yang
melemahkan, diturunkan kepada Nabi SAW, yang ditulis dala mushaf-mushaf, dipindahkan
darinya denga cara mutawatir, dihukumi beribadah dengan membacanya. Hal
ini menandakan bahwa al-Qur'an, lafadz dan maknanya dari Allah Ta'ala dimana
Rasulullah SAW hanya berkewajiban untuk menyampaikan saja.
Sedangkan menurut Subhi as-Shalih, al-Qur'an adalah kalam Ilahi yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di dalam mushaf berdasarkan sumber-sumber
yang mutawatir yang bersifat pasti kebenarannya dan dibaca umat Islam dala
rangka ibadah.
Menurut Zakiah Drajat al-Qur'an adalah wahyu
Allah yang dibukukan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai suatu
mukjizat membacanya dianggap sebagai ibadah sumber utama ajaran agama Islam.
Menurut beliau pengajian atau pembelajaran al-Qur'an pada anak-anak telah
menjadi budaya dan tradisi dalam kurun waktu yang lama dalam masyarakat Islam,
namun sistem dan metodenya perlu diadakan pembaharuan dan pengembangan sesuai
dengan perkembangan metode pengajaran berbagai maam pelajaran. Metode
pengajaran al-Qur'an ini perlu diperbarui dan dikembangkan untuk kebutuhan
masyarakat Islam, karena mayoritas mereka berkeinginan untuk bisa membaca al-Qur'an
dengan baik dan benar yang bisa ditempuh dalam kurun waktu yang singkat.
B.
Konsep Metode Baligha
Metode baligha merupakan suatu metode
membaca al-Qur'an tartil. Nama metode baligha berarti yang membekas di jiwa, diambil dari
lafadz "qaulan baigha" yang termaktub dalam surah
an-Nisa ayat 63 yang artinya perkataan yang membekas pada jiwa. Harapan
diadakannya buku ini agar supaya siapa saja yang belajar membaca al-Qur'an
denganmetode baligha akan membekas di dalam relung jiwa si pembaca
sehingga lahir sebuah kesadaran sekaligus semangat bahwasannya membaca
al-Qur'an tidak ahanya seputar bisa melafadzkan ayat-ayat al-Qur'an akan tetapi
harus diupayakan membaca dengan sesempurna mungkin sehingga bisa sampai kepada
kualitas yang sebenar-benarnya tartil.
Pencetus
metode baligha ini adalah Ummi Rif'ah binti Ishaq Khatib lahir di
Bangkalan di lingkungan yang cukup kondusif dalam kaitannya berinteraksi dengan
al-Qur'an. Kedua orang tua, kakek neneknya semua adalah seorang pengajar
al-Qur'an dan penegetahuan agama Islam dengan mewajibkan belajar mengaji.
Beliau adalah seoran hafidzah dengan kualitas bacaan al-Qur'an yang lancar dan
tartil. Beliau juga telah mengkhatamkan talaqqi al-Qur'an dengan lancar dan
tartil sebelum tamat sekolah dasar karena sejak duduk di kelas 5 SD mulai
dibebankan amanah untuk belajar sambil mengajarkan al-Qur'an kepada adik-adik
santri yang mulai belajar al-Qur'an.
Menurutnya,
mengajar dan membumikan al-Qur'an telah menjadi bagian yang tidak akan pernah
bisa terpisahkan dari hidupnya. Diantara riwayat perjalanan karir beliau adalah
pernha menjadi instruktur tahfidz al-Qur'an di IIQ (sejak sebelum lulus samapai
dengan tahun 1996), beliau pernah juga
menjadi dosen tahfidz al-Qur'an Sekolah Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak
(SPGTK) di Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Darul Hikmah, konsultan
pendidikan al-Qur'an di beberapa sekolah TK sampai dengan Perguruan Tinggi dan
Mudiroh Lembaga Tahfidz al-Qur'an di Islamic Center Iqra Bekasi sejak tahun
1996 sampai dengan sekarang.
Dasar dicetuskannya
metode ini adalah ketika beliau mengajar, kemudian beliau menemukan adanya hal
serius yang sering terabaikan dalam proses kegiatan belajar mengajar al-Qur'an
dalam pengucapan atau pelafalan huruf-huruf hijaiyyah yang kurang bahkan tidak
sesuai dengan makhraj dan sifat huruf (baik teori maupun praktek) sesuai dengan
petunjuk dan kaidah yang dirumuskan dalam kitab ilmu tajwid. Oleh karena itu,
berangkat dari keadaan yang sedemikian rupa beliau berinisiasi untuk
menghadirkan metode baligha dalam pengajaran membaca al-Qur'an, metode
ini mengutamakan pada pelafalan makhrarijul huruf dan sifatul huruf
yang baik secara teori maupun praktek.
Metode baligha
merupakan sebuah metoe yang mana disempurnakan dengan sebuah modul berupa
buku yang berjudul "Cara Mudah Membaca Al-Qur'an" yang elengkapi dua
buku yang telah hadir sebelumnya yaitu "Panduan Tilawah al-Qur'an
(PTA)" dan "5 Langkah Penting Menuju Optimalisasi Tartil (5L)."
Dengan demikian metode ini akan menghasilkan sebuah tujuan saat semua buku tersebut
berjalan secara beriringan karena saling berkaiatan satu sama lain.
Metode
ini merupakan suatu metode membaca al-Qur'an yang langsung mempraktekkan bacaan
tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwid dan bacaan yang sesuai dengan makhraj
dan sifat al-huruf. Adapun dalam pembelajaran metode ini guru menjadi
sentral utama untuk memberi tuntunan membaca yang baik dan benar, jadi sang
guru mencontohkan bacaan di depan santri-santrinya terlebih dahulu yang
kemudian baru diikuti oleh mereka. Oleh karena itu, dalam pengaplikasiannya
seorang guru haruslah memahami betul metode baligha ini dan sang guru
juga harus sudah lulus talaqqi musyafahah dengan menggunakan metode ini.
Metode baligha
memiliki kunci sukses belajar dan mengajarkan di mana di dalamnya terdapat
aturan atau syarat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar menggunakan metode
tersebut, di antara aturannya ialah:
1.
Guru
a.
Ikhlas, disiplin dan bertanggung jawab untuk
mengajarkan dengan kualitas terbaik demi menjaga keaslian bacaan al-Qur'an.
b.
Telah menguasai metode pengajaran baligha beserta
dua buku pelengkapnya Tilawah Al-Qur'an dan 5 Langkah Penting Menuju
Optimalisasi Tartil.
c.
Mengarkan dengan cara klasikal dan individual.
Keduanya tidak boleh diabaikan, karena dengan metode klasikal akan membentuk filling
dan kepekaan, sedangkan dengan metode individual akan menghasilkan
pendeteksian akan suatu kesalahan membaca dari santri.
d.
Memperhatikan petunjuk teknis pengajara yang
baik seara umum ataupu yang khusus pada masing-masing halaman.
2.
Murid
a.
Ikhlas, disiplin dan memiliki komitmen yang
tinggi, (karena banyak godaan/hambatan/tantangan untuk langkah menuju
kebaikan).
b.
Memiliki tekad dan kemauan yang kuat untuk
bisa membaca al-Qur'an (diharapkan untuk menghindari sifat tidak sabar dan
cepat putus asa).
c.
Mentaati semua aturan dan petunjuk baik yang
umum maupun yang khusus.
3.
Teknik Pelaksanaan
a.
Seorang guru menghadapi tidak lebih dari 13
murid.
b.
Belajar setiap hari atau 4-5 kali perpekan.
c.
Lama waktu belajar 120 menit (2 jam) tatp
muka.
d.
Jumlah halaman yang dibaca oleh murid saat
individual disesuaikan dengan kemampuan dari murid. Utamakan kelancaran dan
kefasihan dan tidak harus sama antara murid satu dengan yang lainnya.
e.
Tidak berpindah halaman jika belum lancar dan
benar, kecuali apanila jika ada kendala khusus seperti bicara cadel dan
lain-lain.
f. Pengenalan nomor angka Arab dan Latin yag ada di setiap halaman (bagian
atas abawah) termasuk yang diajarkan.
Adapun buku ini berisi materi-materi yang bisa
memudahkan murid untuk mempelajari al-Qur'an dalam hal bacaan. Buku berisi
materi-materi dan terdiri dari 5 jilid buku yang di setiap jilidnya berisi
materi yang berbeda. Buku ini berjudul "Cara Mudah Membaca Tartil
Al-Qur'sn Baligha" karya Dra. Hj.Ummu Rif'ah Ishaq al-Hafidzah. Pada
setiap jilidnya terdiri dari 40 halaman dengan dilengkapi desain cover yang
apik serta dihiasi dengan warna sampul yang berbeda-beda agar memberikan kesan
menarik perhatian para murid serta memudahkan mereka untuk membedakan setiap
jilidnya. Menariknya lagi, di setiap jilidnya juga dicantumkan kunci sukses
belajar dan mengajarkan baligha. Buku ini tidak dijual bebas di pasaran,
bagi yang ingin menggunakannya atau ingin menjadi pengajar dengan metode baligha
dan telah dinyatakan lulus talaqqi musyafahah degan metode baligha.
C. Keistimewaan Metode Baligha
Adapun keistimewaan dalam menggunakan metode
ajar ini adalah tekas ayat al-Qur'an yang terdapat dalam buku ini ditulis
dengan versi mushaf Madinah atau yang lebi dikenal dengan mushaf terbitan Timur
Tengah yang mana tulisannya menggunakan rasm 'Utsmani menurut riwayat
Abu Daud ibnu Najah. Adapun tujuan digunakannya mushaf rasm'Utsmani agar
umat Muslim mengenal dan mengetahui mushaf dengan rasm tersebut.
Dalam penggunaan metode baligha ini,
juga dilengkapi dengan buku-nuku ajar yaitu buku baligha yang berisi
materi-materi yang akan diajarkan, di
dalamnya selain diajarkan huruf hijaiyyah berikut makhraj huruf dan sifat
hurufnya, namun juga mempelajari angka dalam bahasa Arab serta hukum bacaan
tajwid untuk tingkat yang lebih tinggi.
Berikut materi-materi yang terdapat dalam buku
ajar metode baligha yang terdiri dari 5 jilid, di setiap jilidnya
terdapat petunjuk pembelajarannya dengan tujuan memudahkan guru beserta
muridnya, 5 jilid tersebut antara lain:
a. Jilid 1, berisi tentang pengenalan huruf-huruf tunggal berharakat fathah
dari huruf a dan ba, sampai dengan huruf ya. Baik alam hruf yang terpisah
maupun yang bersambung.
b. Jilid 2, diperkenalkan tanda selain fathah, yaitu kasrah,dhammah,
fathah, dhommatain, fathatain, serta mulai diperkenalkan juga perbedaan
bacaan tebal dan tipis.
c. Jilid 3, di dalamnya telah diajarkan huruf sukun beserta contohnya.
d. Jilid 4, mulai diperkenalkan tentang hukum bacaan tajwid beserta
huruf-huruf dan ketentuan bacaannya beserta contohnya.
e.
Jilid 5, berisi lanjutan dari jilid 4 yang
berisi hukum-hukum bacaan dan bagaiaman ketentuannya, mulai diperkenalakan
dengan bacaan mad, hukum bacaan mim mati, tafkhim dan tarqiq.
Terdapat beberapa sifat yang diterapkan dalam
buku ajar baligha, di antaranya bacaan langsung (murid langsung
diperkenalkan huruf yang berbaris dan ketika membacanya diharusakn tanpa
mengeja terlebih dahulu), modul yang berisi pokok bahasan (mengenai judul-judul
bahasan guru langsung memberi contoh bacaannya beserta penjelasannya), praktis
(praktis jilid dan materinya), sistematis, dan variatif. Adapun yang membedakan
metode baligha dengan yang lainnya terletak pada jumlah jilidnya, metode
baligha terdiri dari 5 jilid sajamsedangkan metode yang lain mayoritas
memilki 6 jilid berikut dengan bbacaan gharib, maka dalam metode baligha ada
buku khusus untuk membahas tentang kata-kata gharib dalam al-Qur'an yang
diciptakan penulis dalam bukunya tersendiri tidak masuk dalam pembelajaran
membaca al-Qur'an dengan metode baligha. Serta susunan kata dan baris
pembelajaran dengan metode ini relatif lebih sedikit.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Metode baligha merupakan metode
pembelajaran membaca al-Qur'an. Ciri khas dari metode pembelaajran al-Qur'an baligha
adalah dengan guru menjadi sentral dan murid menirukan, dengan kata lain
metoe ini menggunakan cara secara langsung dalam mempraktekan teori yang
diberikan guru. Metode pembelajaran al-Qur'an dengan metode baligha dokatakan
berhasil jika anak didik mampu membaca
al-Qur'an sesuai dengan makhraj dan hukum bacaan tajwid. Sedangkan praktek dari
metode ini diprioritaskan pada penguasaan ilmu tajwid yang baik dan benar dalam
teori serta prakteknya.
Metode baligha
merupakan metode yang integral dan efektif dalam kaitannya dengan
penguasaan membaca al-Qur'an yang selaras dengan kaidah-kaidah membaca
al-Qur'an yang baik dan benar,sehingga tidak mengherankan apabila metode ini
diterapkan disetiap lembaga pendidikan agama Islam sebagai suatu metode yang dapat menjadi cara untuk
mengembangkan pembelajaran al-Qur'an untuk melahirkan masyarakat yang cakap dan
melek al-Qur'an.
Daftar Pustaka
Daradjat, Zakiah. 2004. Metodik Khusus
Pengajaran Agama Islam. (Jakarta: Bumi Aksara)
Kurnia, Agus. Implementasi Metode Al-Hidayah
dalam Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur'an. Jurnal Tastqif, Vol. 15, No. 1,
Juni 2017.
Nata, Abuddin. 2009. Perspektif Islam
Tentang Strategi Pembelajaran. (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group)
Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm. 9.