Wednesday, 5 January 2022

 حبيبي

يا رسول الله يا حبيب الله...

 كنت خيرا من خير البشر

كالجوهر من بين الأحجار والرمال

كأنّك بدرا طالعا في مظلم السماء  

تنوّر نورك فوق الأنوار

لا عين ستلتفت من نور الأنوار

يا حبيب القلب...

ما بعثت إلاّ لتتميم الأخلاق

ما كان جهدك إلاّ من بذل الجهد

في إعلاء كلمات الله ربّنا الحق

سيل الدموع والأعراق لن يمسح حمّاستك

ولن تنقص الرحمة والمحبّة إلى ذه، أمّتك الغافلة

ويا سيّد المرسلين...

ما تعرّفت عليك من صدفة

 تصبح أيّامي سيّئة بدون ذكرك

أصبحت شخصا مهمّا بالنسبة لي

وأدركت بأنّي وقعت في حبّك

لو لم أواجح نور وجهك

عشت أجمل أيّامي بإتباع قدوتك

لا يوم بلا حضورك في الاحتلام

لا أقدر على أن أصدّ إظهار سعادتي

في احتفال حلوة التبسّم

لامع من عميق الفؤاد والذهن

وكنت من أساسيات دعائ طول الأيام

 

 IMPLEMENTASI METODE BALIGHA DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA AL-QUR'AN

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas ujian mid-semester genap mata kuliah:

Metode Pembelajaran Al-Qur'an

Dosen Pengampu:

Al-Ustadz Deki Ridho Adi Anggara, S.Ud., M.Ag.

 


 

 

 

 

 

 

 


Disusun Oleh:

Lutfi Atul Kamelia

(402019238121)

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR'AN DAN TAFSIR

FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR

MANTINGAN NGAWI JAWA TIMUR

2022M/1443H

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

            Di dalam ajaran agama Islam tradisi membaca al-Qur'an telah menjadi suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim. Adapun pembelajaran membaca al-qur'an adalah pembelajaran yang sangat utama yang mana menjadi prioritas bagi seluruh umat Islam, karena membaca al-Qur'an adalah pintu gerbang menuju pengetahuan Islamiah seperti akidah, ibadah, akhlak, dan lain-lain.[1] Membaca adalah suatu proses pertama dan paling utama dalam kaitannya membuka kunci petunjuk dan gudang perbendaharaan keilmuan Islam.

            Adapun menjadi seorang yang ahli dalam membaca al-Qur'an hukumnya fardhu kifayah, hal ini agar menjadi perhatian bagi setiap umat Islam sehingga dapat terhindar dari berbagai macam kesalahan yang umumnya tidak sengaja terjadi, seperti halnya bacaan huruf yang salah, harakat, ilmu tajwid dan berbagai ilmu dari yang berakaitan dengan tat cara membaca al-Qur'an yang baik dan yang benar. Seperti halnya dijelaskan di surah al-Alaq ayat 1 sampai 5 yang berbunyi:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Artinya: "Bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang menciptakan, yang menciptakan mu dari segumpal darah, yang mengajarimu dengan perantara kalam, dan dia mengajarkan manusia apa yang tidak di ketahuinya".[2]

Hal ini memberikan pemahaman bahwasannya al-Qur'an pertama kali harus dibaca untuk dapat mengetahui isinya karena tanpa membacanya maka tidak akan didapatkan makna yang terkandung di dalamnya. Sedangkan dalam surah al-Muzammil ayat 4, Allah SWT Berfirman sebagai berikut:

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا (4)

Artinya: "...dan bacalah al-Qur'an dengan tartil".

Dapat disimpulkan bahwa di dalam membaca al-Qur'an sudah seharusnya di baca dengan bersungguh-sungguh dengan cara belajar membaca al-Qur'an sesuai dengan kaidahnya. Pada saat ingin membaca dan memahaminya sudah menjadi kewajiban kita untuk belajar cara membacanya serta berusaha menemukan metode yang sesuai dan efektif yang dapat diterapkan agar pembelajaran bisa mencapai keberhasilan. Pada suatu sistem pembelajaran al-Qur’an pada hakikatnya memiliki tujuan sistem sama yaitu untuk mengetahui huruf dan tanda bacaan al-Qur'an, dan hal yang paling utama adalah membuat bagaimana setiap umat Islam mampu melantukan ayat-ayat suci al-Qur'an sesuai dengan hukum-hukum bacaan dalam ilmu tajwid.[3]

Mengingat akan pentingnya peran al-Qur'an dalam pembimbing dan mengarahkan kehidupan manusia, Hasan al-Bana berpendapat bahwa membaca, memahami dam mempelajari al-Qur'an untuk kemudian dapat diamalkan dalam keseharian merupakan kewajiban bagi setiap insan Muslim.[4] Sebagaimana dalam hadits:

حَدّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ، حَدّثَنَا شُعْبَةٌ، قَالَ: أَخْبَرَنِيْ عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ، سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ، عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ، عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ الله عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

                        Dalam hadits tersebut dipaparkan bahwa siapa saja yang belajar al-Qur'an serta mengajarkannya kepada oang lain maka akan diberikan pahala kebaikan tersendiri kepadanya, sebagaimana yang telah diketahui bahwa pahala kebaikan memiliki  hierarki tersendiri, dan yang menempati hierarki tertinggi adalah siapa saja yang mempelajari al-Qur'an dengan makna dan maksud yang terkandung di dalamnya. Sedangkan sekurang-kurangnya adalah dengan mempelajari lafadznya saja.[5]

Al-Qur'an adalah kitab suci yan paling banyak dan kerap dibaca dan didengar oleh seluruh umat manusia di dunia.sekurang-kurangnya dalam dibaca lima kali dalam sehari semalam oleh seluruh umat Islam baik dibaca secara individu maupun secara berjamaah di dalam shalat mereka. Kadar pembacaan al-Qur'an dikalangan umat Muslim sungguh beranekaragam. Ada yan membacanya dengan fasih sempurna, namun adapula sebagian yang masih sederhana bahkan ada yang terbata-bata.[6]

Kondisi tersebut diduga terjadi dikarenakan oleh beberapa faktor, yaitu modernisasi yang banyak mempengaruhi arah pemikiran manusia zaman sekarang, waktu dan tenaga yang disediakan untuk belajar al-Qur'an sangat sedikit apabila dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk menuntut ilmu penegetahuan lain, bagi masayrakat yang berpendidikan non-pesantren membaca al-Qur'an dianggap agak sulit karena al-Qur'an ditulis dengan bahasa Arab, perkembangan teknologi ikut andil mengalihkan kecenderungan masyarakat untuk belajar al-Qur'an, statisnya pengembangan sistem pengajaran membaca al-Qur'an.[7]

Dari problematika yang bervariasi itulah, maka sudah menjadi kewajiban dan tugas bersama untuk melakukan kegiatan pembelajaran al-Qur'an dengan mencari metode yang dapat memudahkan proses pembelajaran al-Qur'an. agar supaya pembelajaran al-Qur'an dapat berjalan lebih efisien dan tepat. Karena dengan tanpa adanya suatu metode yang tepat maka suatu pembelajaran akan statis dan sia-sia. Adapun metode menduduki posisi terpenting kedua setelah tujuan dari sederetan komponen-komponen pembelajaran: tujuan, metode, media, dan evaluasi tercapai.[8] Dengan beragamnya metode pembelajaran al-Qur'an yag tengah berkembang di masyarakat sekarang ini, penulis tertarik untuk membahas tentang bagaimana penerapan metode Baligha dalam pembelajaran al-Qur'an yang awal mula dikembangkan di lembaga "Al-Qur'an Center Ummu Habibah Tangerang" sehingga bisa menjadi pengetahuan bersama dan menjadi solusi atas pemilihan metode pembelajaran al-Qur'an yang baik, benar dan efektif.

Rumusan Masalah

1.      Apakah yang dimaksud dengan metode pembelajaran membaca al-Qur'an?

2.      Bagaimana implementasi metode baligha dalam pembelajaran membaca al-Qur'an?

3.      Apakah keistimewaan dari metode baligha ini sehingga layak digunakan sebagai metode pembelajaran membaca al-Qur'an yang efektif untuk diterapkan di setiap lembaga pendidikan Islam?

Tujuan Masalah

1.      Mengetahui metode pembelajaran membaca al-Qur'an.

2.      Mengetahui imlplementasi metode baligha dalam pembelajaran membaca al-Qur'an.

3.      Mengetahui keistimewaan dari metode baligha ini sehingga layak digunakan sebagai metode pembelajaran membaca al-Qur'an yang efektif untuk diterapkan di setiap lembaga pendidikan Islam.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Metode Dan Pembelajaran Membaca Al-Qur'an

Secara etimologi metode diambil dari kata bahasa Yunani, yaitu Metodos yang artinya cara atau jalan.[9] Sedangkan secara terminologi metode adalah suatu cara yang teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan dalam rangka mencapai sesuatu yang dikehendaki, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.[10]

Sedangkan pembelajaran adalah suatu proses interaksi anatara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bentuk bantuan yang diberikan seorang pendidik dalam proses mendapatkan ilmu serta pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.[11] Dapat dipahami bahwa pembelajaran merupakan sebuah usaha mempengaruhi emosi, intelektual, dan spiritual seseorang agar dia bersedia untuk belajar atas dasar kemauan diri sendiri, dengan proses pembelajaran maka akan terjadi proses pengembangan moral keagamaan, aktivitas, dan kreativitas, peserta didik melalui berbagai bentuk interaksi dan pengalaman selama proses belajar.[12]

Menurut ulama ahli ilmu ushul, yakni para fuqaha' dan ulama Arab, al-Qur'an adalah firman Allah yang melemahkan, diturunkan kepada Nabi SAW, yang ditulis dala mushaf-mushaf, dipindahkan darinya denga cara mutawatir, dihukumi beribadah dengan membacanya. Hal ini menandakan bahwa al-Qur'an, lafadz dan maknanya dari Allah Ta'ala dimana Rasulullah SAW hanya berkewajiban untuk menyampaikan saja.[13] Sedangkan menurut Subhi as-Shalih, al-Qur'an adalah kalam Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di dalam mushaf berdasarkan sumber-sumber yang mutawatir yang bersifat pasti kebenarannya dan dibaca umat Islam dala rangka ibadah.[14]

Menurut Zakiah Drajat al-Qur'an adalah wahyu Allah yang dibukukan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai suatu mukjizat membacanya dianggap sebagai ibadah sumber utama ajaran agama Islam. Menurut beliau pengajian atau pembelajaran al-Qur'an pada anak-anak telah menjadi budaya dan tradisi dalam kurun waktu yang lama dalam masyarakat Islam, namun sistem dan metodenya perlu diadakan pembaharuan dan pengembangan sesuai dengan perkembangan metode pengajaran berbagai maam pelajaran. Metode pengajaran al-Qur'an ini perlu diperbarui dan dikembangkan untuk kebutuhan masyarakat Islam, karena mayoritas mereka berkeinginan untuk bisa membaca al-Qur'an dengan baik dan benar yang bisa ditempuh dalam kurun waktu yang singkat.[15]

B.     Konsep Metode Baligha

            Metode baligha merupakan suatu metode membaca al-Qur'an tartil. Nama metode baligha  berarti yang membekas di jiwa, diambil dari lafadz "qaulan baigha" yang termaktub dalam surah an-Nisa ayat 63 yang artinya perkataan yang membekas pada jiwa. Harapan diadakannya buku ini agar supaya siapa saja yang belajar membaca al-Qur'an denganmetode baligha akan membekas di dalam relung jiwa si pembaca sehingga lahir sebuah kesadaran sekaligus semangat bahwasannya membaca al-Qur'an tidak ahanya seputar bisa melafadzkan ayat-ayat al-Qur'an akan tetapi harus diupayakan membaca dengan sesempurna mungkin sehingga bisa sampai kepada kualitas yang sebenar-benarnya tartil.[16]

            Pencetus metode baligha ini adalah Ummi Rif'ah binti Ishaq Khatib lahir di Bangkalan di lingkungan yang cukup kondusif dalam kaitannya berinteraksi dengan al-Qur'an. Kedua orang tua, kakek neneknya semua adalah seorang pengajar al-Qur'an dan penegetahuan agama Islam dengan mewajibkan belajar mengaji. Beliau adalah seoran hafidzah dengan kualitas bacaan al-Qur'an yang lancar dan tartil. Beliau juga telah mengkhatamkan talaqqi al-Qur'an dengan lancar dan tartil sebelum tamat sekolah dasar karena sejak duduk di kelas 5 SD mulai dibebankan amanah untuk belajar sambil mengajarkan al-Qur'an kepada adik-adik santri yang mulai belajar al-Qur'an.

            Menurutnya, mengajar dan membumikan al-Qur'an telah menjadi bagian yang tidak akan pernah bisa terpisahkan dari hidupnya. Diantara riwayat perjalanan karir beliau adalah pernha menjadi instruktur tahfidz al-Qur'an di IIQ (sejak sebelum lulus samapai dengan tahun 1996),  beliau pernah juga menjadi dosen tahfidz al-Qur'an Sekolah Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak (SPGTK) di Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Darul Hikmah, konsultan pendidikan al-Qur'an di beberapa sekolah TK sampai dengan Perguruan Tinggi dan Mudiroh Lembaga Tahfidz al-Qur'an di Islamic Center Iqra Bekasi sejak tahun 1996 sampai dengan sekarang.[17]

            Dasar dicetuskannya metode ini adalah ketika beliau mengajar, kemudian beliau menemukan adanya hal serius yang sering terabaikan dalam proses kegiatan belajar mengajar al-Qur'an dalam pengucapan atau pelafalan huruf-huruf hijaiyyah yang kurang bahkan tidak sesuai dengan makhraj dan sifat huruf (baik teori maupun praktek) sesuai dengan petunjuk dan kaidah yang dirumuskan dalam kitab ilmu tajwid. Oleh karena itu, berangkat dari keadaan yang sedemikian rupa beliau berinisiasi untuk menghadirkan metode baligha dalam pengajaran membaca al-Qur'an, metode ini mengutamakan pada pelafalan makhrarijul huruf dan sifatul huruf yang baik secara teori maupun praktek.[18]

            Metode baligha merupakan sebuah metoe yang mana disempurnakan dengan sebuah modul berupa buku yang berjudul "Cara Mudah Membaca Al-Qur'an" yang elengkapi dua buku yang telah hadir sebelumnya yaitu "Panduan Tilawah al-Qur'an (PTA)" dan "5 Langkah Penting Menuju Optimalisasi Tartil (5L)." Dengan demikian metode ini akan menghasilkan sebuah tujuan saat semua buku tersebut berjalan secara beriringan karena saling berkaiatan satu sama lain.[19]

            Metode ini merupakan suatu metode membaca al-Qur'an yang langsung mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwid dan bacaan yang sesuai dengan makhraj dan sifat al-huruf. Adapun dalam pembelajaran metode ini guru menjadi sentral utama untuk memberi tuntunan membaca yang baik dan benar, jadi sang guru mencontohkan bacaan di depan santri-santrinya terlebih dahulu yang kemudian baru diikuti oleh mereka. Oleh karena itu, dalam pengaplikasiannya seorang guru haruslah memahami betul metode baligha ini dan sang guru juga harus sudah lulus talaqqi musyafahah dengan menggunakan metode ini.

            Metode baligha memiliki kunci sukses belajar dan mengajarkan di mana di dalamnya terdapat aturan atau syarat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar menggunakan metode tersebut, di antara aturannya ialah:

1.      Guru

a.       Ikhlas, disiplin dan bertanggung jawab untuk mengajarkan dengan kualitas terbaik demi menjaga keaslian bacaan al-Qur'an.

b.      Telah menguasai metode pengajaran baligha beserta dua buku pelengkapnya Tilawah Al-Qur'an dan 5 Langkah Penting Menuju Optimalisasi Tartil.

c.       Mengarkan dengan cara klasikal dan individual. Keduanya tidak boleh diabaikan, karena dengan metode klasikal akan membentuk filling dan kepekaan, sedangkan dengan metode individual akan menghasilkan pendeteksian akan suatu kesalahan membaca dari santri.

d.      Memperhatikan petunjuk teknis pengajara yang baik seara umum ataupu yang khusus pada masing-masing halaman.

2.      Murid

a.       Ikhlas, disiplin dan memiliki komitmen yang tinggi, (karena banyak godaan/hambatan/tantangan untuk langkah menuju kebaikan).

b.      Memiliki tekad dan kemauan yang kuat untuk bisa membaca al-Qur'an (diharapkan untuk menghindari sifat tidak sabar dan cepat putus asa).

c.       Mentaati semua aturan dan petunjuk baik yang umum maupun yang khusus.

3.      Teknik Pelaksanaan

a.       Seorang guru menghadapi tidak lebih dari 13 murid.

b.      Belajar setiap hari atau 4-5 kali perpekan.

c.       Lama waktu belajar 120 menit (2 jam) tatp muka.

d.      Jumlah halaman yang dibaca oleh murid saat individual disesuaikan dengan kemampuan dari murid. Utamakan kelancaran dan kefasihan dan tidak harus sama antara murid satu dengan yang lainnya.

e.       Tidak berpindah halaman jika belum lancar dan benar, kecuali apanila jika ada kendala khusus seperti bicara cadel dan lain-lain.

f.       Pengenalan nomor angka Arab dan Latin yag ada di setiap halaman (bagian atas abawah) termasuk yang diajarkan.

Adapun buku ini berisi materi-materi yang bisa memudahkan murid untuk mempelajari al-Qur'an dalam hal bacaan. Buku berisi materi-materi dan terdiri dari 5 jilid buku yang di setiap jilidnya berisi materi yang berbeda. Buku ini berjudul "Cara Mudah Membaca Tartil Al-Qur'sn Baligha" karya Dra. Hj.Ummu Rif'ah Ishaq al-Hafidzah. Pada setiap jilidnya terdiri dari 40 halaman dengan dilengkapi desain cover yang apik serta dihiasi dengan warna sampul yang berbeda-beda agar memberikan kesan menarik perhatian para murid serta memudahkan mereka untuk membedakan setiap jilidnya. Menariknya lagi, di setiap jilidnya juga dicantumkan kunci sukses belajar dan mengajarkan baligha. Buku ini tidak dijual bebas di pasaran, bagi yang ingin menggunakannya atau ingin menjadi pengajar dengan metode baligha dan telah dinyatakan lulus talaqqi musyafahah degan metode baligha.[20]

C.    Keistimewaan Metode Baligha

Adapun keistimewaan dalam menggunakan metode ajar ini adalah tekas ayat al-Qur'an yang terdapat dalam buku ini ditulis dengan versi mushaf Madinah atau yang lebi dikenal dengan mushaf terbitan Timur Tengah yang mana tulisannya menggunakan rasm 'Utsmani menurut riwayat Abu Daud ibnu Najah. Adapun tujuan digunakannya mushaf rasm'Utsmani agar umat Muslim mengenal dan mengetahui mushaf dengan rasm tersebut.

Dalam penggunaan metode baligha ini, juga dilengkapi dengan buku-nuku ajar yaitu buku baligha yang berisi materi-materi yang akan diajarkan,  di dalamnya selain diajarkan huruf hijaiyyah berikut makhraj huruf dan sifat hurufnya, namun juga mempelajari angka dalam bahasa Arab serta hukum bacaan tajwid untuk tingkat yang lebih tinggi.[21]

Berikut materi-materi yang terdapat dalam buku ajar metode baligha yang terdiri dari 5 jilid, di setiap jilidnya terdapat petunjuk pembelajarannya dengan tujuan memudahkan guru beserta muridnya, 5 jilid tersebut antara lain:

a.       Jilid 1, berisi tentang pengenalan huruf-huruf tunggal berharakat fathah dari huruf a dan ba, sampai dengan huruf ya. Baik alam hruf yang terpisah maupun yang bersambung.

b.      Jilid 2, diperkenalkan tanda selain fathah, yaitu kasrah,dhammah, fathah, dhommatain, fathatain, serta mulai diperkenalkan juga perbedaan bacaan tebal dan tipis.

c.       Jilid 3, di dalamnya telah diajarkan huruf sukun beserta contohnya.

d.      Jilid 4, mulai diperkenalkan tentang hukum bacaan tajwid beserta huruf-huruf dan ketentuan bacaannya beserta contohnya.

e.       Jilid 5, berisi lanjutan dari jilid 4 yang berisi hukum-hukum bacaan dan bagaiaman ketentuannya, mulai diperkenalakan dengan bacaan mad, hukum bacaan mim mati, tafkhim dan tarqiq.[22]

Terdapat beberapa sifat yang diterapkan dalam buku ajar baligha, di antaranya bacaan langsung (murid langsung diperkenalkan huruf yang berbaris dan ketika membacanya diharusakn tanpa mengeja terlebih dahulu), modul yang berisi pokok bahasan (mengenai judul-judul bahasan guru langsung memberi contoh bacaannya beserta penjelasannya), praktis (praktis jilid dan materinya), sistematis, dan variatif. Adapun yang membedakan metode baligha dengan yang lainnya terletak pada jumlah jilidnya, metode baligha terdiri dari 5 jilid sajamsedangkan metode yang lain mayoritas memilki 6 jilid berikut dengan bbacaan gharib, maka dalam metode baligha ada buku khusus untuk membahas tentang kata-kata gharib dalam al-Qur'an yang diciptakan penulis dalam bukunya tersendiri tidak masuk dalam pembelajaran membaca al-Qur'an dengan metode baligha. Serta susunan kata dan baris pembelajaran dengan metode ini relatif lebih sedikit.[23]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

            Metode baligha merupakan metode pembelajaran membaca al-Qur'an. Ciri khas dari metode pembelaajran al-Qur'an baligha adalah dengan guru menjadi sentral dan murid menirukan, dengan kata lain metoe ini menggunakan cara secara langsung dalam mempraktekan teori yang diberikan guru. Metode pembelajaran al-Qur'an dengan metode baligha dokatakan berhasil jika  anak didik mampu membaca al-Qur'an sesuai dengan makhraj dan hukum bacaan tajwid. Sedangkan praktek dari metode ini diprioritaskan pada penguasaan ilmu tajwid yang baik dan benar dalam teori serta prakteknya.

            Metode baligha merupakan metode yang integral dan efektif dalam kaitannya dengan penguasaan membaca al-Qur'an yang selaras dengan kaidah-kaidah membaca al-Qur'an yang baik dan benar,sehingga tidak mengherankan apabila metode ini diterapkan disetiap lembaga pendidikan agama Islam sebagai  suatu metode yang dapat menjadi cara untuk mengembangkan pembelajaran al-Qur'an untuk melahirkan masyarakat yang cakap dan melek al-Qur'an.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Al-Kandahlawi, Maulana Muhammad Zakariya. 1993. Fadhaailul A'mal. (Bandung: Pustaka Ramadhan).

Arif, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. (Jakarta: Ciputat Press).

As-Shaleh, Subhi. 1996. Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur'an. (Jakarta: Pustak Firdausi).

Dainuri. Problematika Pembelajaran Al-Qur'an dengan Metode Tilawati. Vol. 2, Agustus 2017.

Daradjat, Zakiah. 2004. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. (Jakarta: Bumi Aksara)

Fathurrahman, Muhammad. Model-Model Pembelajaran Inovatif. (AMH).

Hidayatullah, Agus. Al-Wasim Al-Qur'an Tajwid Kode Transliterasi Perkata Terjemah Perkata.

Ishaq, Ummi Rif'ah. 2012. Cara Mudah Membaca Tartil Al-Qur'an. jilid 1-5. (Bekasi: Syukur Press).

Kbbi online, diakses pada tanggal 03 Januari 2022, pukul 22:51.

Kurnia, Agus. Implementasi Metode Al-Hidayah dalam Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur'an. Jurnal Tastqif, Vol. 15, No. 1, Juni 2017.

Mahyudi, Syaifullah. 1985. Permata Al-Qur'an. Cet. 1. (Jakarta: CV Rajawali).

Nata, Abuddin. 2009. Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran. (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group)

Syarifuddin. "Aplikasi Metode Tahsin untuk Belajar Al-Qur’an dalam Pendampingan Kelompok Perempuan di Kelurahan Kutaraya Kecamatan Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir". Manhaj: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat".Vol. 9  No. 1, 2020, hlm. 61.

Thoha, Chabib. Syifuddin Zuhri, dkk. 1999. Metodologi Pengajaran Agama. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar).

Yusuf, Tayar. 1995. Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. (Jakarta: PT Raja Grafindo).



[1] Agus Kurnia, Implementasi Metode Al-Hidayah dalam Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur'an, Jurnal Tastqif, Vol. 15, No. 1, Juni 2017, hlm. 70.

[2] Agus Hidayatullah, Al-Wasim Al-Qur'an Tajwid Kode Transliterasi Perkata Terjemah Perkata, hlm. 597.

[3] Syarifuddin, Aplikasi Metode Tahsin untuk Belajar Al-Qur’an dalam Pendampingan Kelompok Perempuan di Kelurahan Kutaraya Kecamatan Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir, Manhaj: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Vol. 9  No. 1, 2020, hlm. 61.

[4] Agus Kurnia, Implementasi Metode Al-Hidayah dalam Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur'an, hlm. 70.

[5]  Maulana Muhammad Zakariya al-Kandahlawi, Fadhaailul A'mal, (Bandung: Pustaka Ramadhan, 1993), hlm. 38.

[6] Syaifullah Mahyudi, Permata Al-Qur'an, Cet. 1, (Jakarta: CV Rajawali, 1985), hlm. 5.

[7] Dainuri, Problematika Pembelajaran Al-Qur'an dengan Metode Tilawati, Vol. 2, Agustus 2017, hlm. 168.

[8] Armai Arif, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 109.

[9] Tayar Yusuf, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1995), hlm. 1.

[10] Kbbi online, diakses pada tanggal 03 Januari 2022, pukul 22:51.

[11] Muhammad Fathurrahman, Model-Model Pembelajaran Inovatif, (AMH), hlm. 16.

[12] Abuddin Nata, Perspektif ISLAM Tentang Strategi Pembelajaran,(Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2009), hlm. 85.

[13] Chabib Thoha, Syifuddin Zuhri, dkk, Metodologi Pengajaran Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 27.

[14] Subhi as-Shaleh,Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur'an, (Jakarta: Pustak Firdausi, 1996).

[15] Zakiah Daradjat,


Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm. 9.

[16] Ummi Rif'ah Ishaq, Cara Mudah Membaca Tartil Al-Qur'an, jilid 1-5, (Bekasi: Syukur Press, 2012).

[17] Ummi Rif'ah Ishaq, Cara Mudah Membaca Tartil Al-Qur'an, profil penyusun.

[18] Fitria Damayanti, Penerapan Metode Baligha Dalam Pembelajaran Membaca Al-Qur'an Di Al-Qur'an Center Ummu Habibah Tangerang, Skripsi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2020, hlm. 80.

[19]Ummi Rif'ah Ishaq, Cara Mudah Membaca Tartil Al-Qur'an, Prakata.

[20] Ummi Rif'ah Ishaq, Cara Mudah Membaca Tartil Al-Qur'an, jilid 1-5.

[21] Ummi Rif'ah Ishaq, Cara Mudah Membaca Tartil Al-Qur'an, jilid 1, Prakata.

[22] Ummi Rif'ah Ishaq, Cara Mudah Membaca Tartil Al-Qur'an, jilid 4, hlm 1-40.

[23]Ummi Rif'ah Ishaq, Cara Mudah Membaca Tartil Al-Qur'an, jilid 1-5, (Bekasi: Syukur Press, 2012).


  حبيبي يا رسول الله يا حبيب الله...  كنت خيرا من خير البشر كالجوهر من بين الأحجار والرمال كأنّك بدرا طالعا في مظلم السماء   تنوّر...